Sabtu, 04 Maret 2023

REFLEKSI PEMBELAJARAN ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 2.1. MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pengertian

Setiap murid memiliki perbedaan mulai dari latar belakang, minat, kecepatan belajar, dan cara berpikir. Dengan adanya perbedaan tersebut maka guru perlu memahami bahwa kebutuhan belajar setiap anak juga berbeda. Hal ini tentu saja membuat guru harus proaktif untuk merencanakan berbagai cara atau teknik untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah pendekatan yang dapat memenuhi kebutuhan  tersebut. 

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut terkait dengan kurikulum, respon guru terhadap kebutuhan belajar muridnya, usaha guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang ‘mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi, manajemen kelas yang efektif dan penilaian berkelanjutan. 

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

Praktik pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan belajar dengan lebih komprehensif, agar dapat merespon dengan lebih tepat terhadap kebutuhan belajar murid-muridnya. Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah:

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Tujuan memetakan kesiapan belajar murid untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29)

2.  Minat murid

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar, mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran, menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

3.  Profil belajar murid

Profil belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Profil belajar terkait gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha menggunakan kombinasi gaya mengajar.

Berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar tersebut, guru dapat menentukan strategi yang dibutuhkan dalam praktik pembelajaran berdiferensiasi. Beberapa strategi diferensiasi yang bisa kita lakukan yaitu :

  1.  Diferensiasi konten

Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid kita. Diferensiasi konten dibedakan atas tingkat kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid.

2.  Diferensiasi proses

Proses adalah bagaimana murid akan memahami memaknai apa informasi atau materi yang akan dipelajari. Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan kegiatan berjenjang, menyediakan pertanyaan pemandu, membuat agenda individual, memvariasikan lamanya pengumpulan tugas, mengembangkan kegiatan bervariasi yang menggunakan berbagai metode gaya belajar, menggunakan pengelompokkan yang fleksibel.

3.  Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja murid yang akan ditunjukkan kepada guru dalam berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukkan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dsb. Produk harus mencerminkan pemahaman murid dan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Diferensiasi produk harus disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid.

 

Sebuah kelas yang berdiferensiasi haruslah didukung komunitas belajar, dimana guru memimpin murid muridnya untuk mengembangkan sikap, kepercayaan, dan praktek-praktek yang mengembangkan komunitas belajar. Komunitas belajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi nampak pada iklim kelas yang mendukung, setiap orang dalam kelas saling menghargai, murid merasa aman dan nyaman, ada harapan pertumbuhan siswa secara optimal, setiap kebutuhan siswa terpenuhi, dan adanya kolaborasi antar guru dan siswa.  

Selasa, 20 Desember 2022

REFLEKSI PEMBELAJARAN ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 

Perubahan Paradigma Teori Kontrol/Teori Pilihan (Ilusi Kontrol)

Psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’, yaitu :

·  Ilusi guru mengontrol murid.  

Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau  murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid  sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap  perilaku yang tidak disukai.

·  Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.

Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah  suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.

·  Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat  menguatkan karakter.

Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan  negatif.

·  Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa. 

Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab  untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang  dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang,  dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.

Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai, atau mencapai suatu tujuan mulia.

Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. William Glasser pada Teori Kontrol (1984), menyatakan bahwa setiap perbuatan memiliki suatu tujuan, dan selanjutnya Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.

Penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya

Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya pada pembelajaran 2.1 tentang Nilai-nilai Kebajikan bahwa menekankan pada keyakinan seseorang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis tanpa makna. Murid-murid pun demikian, mereka perlu mendengarkan dan memahami arti sesungguhnya tentang peraturan-peraturan yang diberikan, apa nilai-nilai kebajikan dibalik peraturan tersebut, apa tujuan utamanya, dan menjadi tidak tertarik, atau takut sehingga hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan-peraturan yang mengatur mereka tanpa memahami tujuan mulianya.

Konsep 5 kebutuhan dasar manusia tidak hanya berlaku bagi anak-anak atau murid-murid, namun juga bagi manusia dewasa, dalam setting sekolah adalah para tenaga pendidik dan kependidikan. Lihatlah para guru di sekolah Anda. Dapatkan Anda memprediksi kira-kira guru mana yang memiliki kebutuhan dasar yang tinggi akan penguasaan, kebebasan, kesenangan, atau kasih sayang dan rasa diterima? Kebutuhan dasar mana yang sedang berusaha dipenuhi oleh guru  ketika mereka melakukan sebuah tindakan tertentu?  Kalau begitu,  apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin sekolah berdasarkan konsep 5 kebutuhan dasar ini dalam rangka mewujudkan lingkungan dan budaya sekolah yang positif ? 

Sabtu, 10 Desember 2022

REFLEKSI PEMBELAJARAN ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK

 

Inkuiri Apresiatif merupakan sebuah paradigma sekaligus model manajemen perubahan yang memegang prinsip psikologi dan pendidikan positif serta pendekatan berbasis kekuatan. Pendekatan ini berfokus pada kekuatan dan nilai-nilai positif yang dimiliki oleh suatu organisasi, dalam hal ini sekolah dan warganya untuk dapat terus melakukan perubahan dan perbaikan kualitas.

Hubungan peran pendidik dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara dan profil pelajar Pancasila dengan paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) adalah visi dan peran sebagai guru penggerak, seorang guru diharapkan dapat mewujudkan filosofi pendidikan Ki hajar Dewantara, yakni mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya bagi murid. Dengan kata lain nilai-nilai dan peran guru penggerak akan mendorong terwujudnya kemerdekaan anak dalam belajar serta mewujudkan keselematan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Seorang guru yang berpihak pada murid akan selalu berinovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, berkolaborasi dengan berbagai pihak, mandiri dalam menjalankan tugas serta selalu berusaha merefleksikan kegiatan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang telah dilakukan. Tidak kalah pentingnya dengan nilai guru penggerak, peran guru penggerak juga dibutuhkan untuk menumbuhkan profil pelajar Pancasila bagi anak. Dengan nilai dan peran guru penggerak, seorang guru diharapkan mempunyai visi, dimana visi tersebut dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila dan mewujudkan kemerdekaan belajar bagi anak. Profil Pelajar Pancasila adalah sebuah karakter yang harus dimiliki oleh setiap murid. Ada 6 profil yang harus ditanamkan dalam setiap murid yaitu Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, Bernalar Kritis, Mandiri, Berkebinekaan Global, Berotong Royong, dan Kreatif. Profil pelajar pancasila ini bisa kita tanamkan kepada siswa melalui berbagai kegiatan, misalnya di dalam kelas ketika proses pembelajaran, diluar kelas dan juga melalui kegiatan-kegiatan sekolah seperti ekstrakurikuler.

Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan sebuah pendekatan atau rancangan yang disebut dengan Inkuiri Apresiatif (IA). Dengan Inkuiri Apresiatif (IA) kita dapat mewujudkan sebuah visi atau prakarsa perubahan dengan memanfaatkan nilai-nilai positif yang sudah ada. Nilai-nilai tersebut dapat berupa kekuatan, kelebihan, maupun potensi yang telah dimiliki.

Berikut contoh KANVAS BAGJA

AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

Yang mendasari pembuatan rancangan tindakan :

·  Murid tidak suka dengan peraturan karena selama ini jika mereka melakukan pelanggaran, maka akan mendapatkan hukuman dan cenderung akan mempermalukan dirinya
·   Setiap anak memiliki kekuatan positif pada dirinya.
·  Kekuatan positif pada anak perlu senantiasa dituntun agar menjadi karakter yang melekat pada diri anak untuk mencegah terjadinya hal hal yang tidak didinginkan seperti kecurangan dalam ujian dan mengerjakan tugas, kurangnya rasa empati, anak tidak update dengan informasi, masih enggan bekerjasama, dan jarang melakukan refleksi.
·  Negara kita memiliki banyak budaya positif  yang  perlu dilestarikan dimulai dari diri dan kelas tempat guru mewariskan nilai-nilai budaya positif tersebut

Dampak pada murid yang ingin dilihat dari rancangan tindakan : 
·  Menciptakan murid yang merdeka dan disiplin diri yang kuat
·  Menumbuhkan budaya positif disekolah dengan meyakini nilai-nilai kebijakan universal

Bukti yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik :
·  Terbentuknya “keyakinan kelas” melalui kegiatan kesepakatan kelas yang dilakukan wali kelas dan siswa
·   Siswa mampu menerapkan dan menjalankan “keyakinan kelas” yang telah dibuat

Penerapan budaya positif yang dilaksanakan dan yang menjadi pilihan adalah “jujur, kolaboratif, bernalar kritis melalui pembuatan kesepakatan kelas

Tahap 1. Perencanaan ( minggu 1 )
1. Menghadap kepala sekolah untuk menjelaskan pentingnya penanaman budaya positif & keyakinan kelas disekolah, serta meminta izin untuk mendiseminasikan bersama rekan guru
2.  Menyusun rencana untuk pelaksanaan pembuatan kesepakatan kelas
3.  Menetapkan kelas yang akan dilakukan tindakan yaitu kelas 7.2
4. Berkoordinasi dan berkolaborasi dengan wali kelas untuk membuat keyakinan kelas dikelas masing – masing

Tahap 2 Pelaksanaan ( Minggu ke 2 dan 3 )
1. Mengumpulkan rekan guru untuk melakukan diseminasi pemahaman materi dan budaya positif (keyakinan kelas & segitiga restitusi)
2. Mengawali dengan pembuatan kesepakatan kelas budaya positif (jujur, kolaborasi, bernalar kritis )
3.  Penanaman dan penguatan nilai budaya positif dikelas
4.  Memantau keyakinan kelas yang telah dibuat
5.  Menyimpulkan

Tahap 3 refleksi ( minggu  ke 4 )
·   Merefleksi, dan mengevaluasi keyakinan kelas yang telah dibuat

Bahan, alat, atau pihak yang dibutuhkan untuk menjalankan tindakan dan cara mendapatkannya :
·  Dukungan dari kepala sekolah, rekan guru, serta murid agar tindakan yang telah disusun dapat dilakukan secara lancar dan menyeluruh
·    Sarana  dan prasarana untuk menumbuhkan budaya positif disekolah
.    Orangtua dalam melakukan budaya positif dirumah

Berikut hasil kegiatan desiminasi yang telah saya lakukan :

Rabu, 30 November 2022

REFLEKSI PEMBELAJARAN ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.2. NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

 


NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Nilai-nilai Guru Penggerak antara lain Berpusat pada Murid, Nilai Mandiri, Nilai Reflektif, Nilai Kolaboratif, Nilai Inovatif

Peran Guru Penggerak diantaranya Pemimpin Pembelajaran, Menjadi Coach Bagi Guru Lain, Mendorong Kolaborasi, Mewujudkan Kepemimpinan Murid, Menggerakkan Komunitas Praktisi, Berpihak pada Murid

Nilai Berpusat pada Murid
Nilai ini mensyaratkan bahwa seorang pendidik harus mengutamakan kepentingan murid, terus memberdayakan dirinya serta memanfaatkan asset/kekuatan yang ada untuk menyediakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang positif serta berkualitas bagi muridnya. Memahami karakteristik setiap siswa dan mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan sesuai minat dan bakat siswa. Misalnya menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dikelas yaitu dengan memberikan reward yang positif dari hasil yang  dikerjakan, memberikan semangat untuk belajar dari tokoh inspirasi teladan, membiasakan tampil kedepan untuk menguji ketahanan mental anak dengan menjadi pemimpin didepan kelas. Menciptakan desain pembelajaran yang menarik bagi siswa dalam pembelajaran, pembelajaran differensiasi akan menghasilkan hasil belajar siswa yang optimal.

Nilai Mandiri
Pendidik yang termotivasi untuk mengembangkan dirinya tanpa harus diperintah, tergerak untuk melakukan perbaikan diri demi meningkatkan kualitas kinerja dan hasil kerja. Guru yang mampu memotivasi diri sendiri untuk melakukan perubahan baik untuk diri sendiri atau lingkungan. Mengembangkan diri baik secara mandiri maupun adanya tugas dari sekolah. Contoh peran sebagai seorang guru yang mandiri, yaitu mengikuti berbagai macam kegiatan untuk mengikuti pelatihan atau workshop sehingga dapat meningkatkan kemampuan sebagai seorang guru. Baik kemampuan dalam mengelola pembelajaran yang inovatif dan berpihak pada murid maupun kemampuan di bidang lainnya. Kegiatan atau pelatihan yang diselenggarakan oleh kemendikbudristek secara daring seperti guru belajar dan berbagi yang bisa diikuti untuk meningkatkan kompetensi. Aktif mengikuti kegiatan MGMP, mengikuti webinar terkait dengan pembelajaran maupun peningkatan konten materi.

Nilai Reflektif
Guru yang memiliki nilai Reflektif senantiasa memaknai setiap pengalaman sebagai pembelajaran yang menuntun dirinya dan terus mengupayakan perbaikan kualitas kinerja dan hasil kerjanya serta menjadikan refleksi sebagai kebutuhan. Sebagai seorang guru diharapkan memiliki nilai reflektif, yaitu mampu dan selalu melakukan evaluasi terhadap setiap kegiatan yang sudah dilaksanakan. Mampu menerima masukan dan berpikir terbuka sehingga bisa mengembangkan sikap positif dan menciptakan perubahan yang lebih baik. Seorang guru harus mampu merefleksikan pengalaman baru yang terjadi di sekeliling dan menjadikan bahan perbaikan untuk kegiatan mendatang. Sebagai seorang guru, harus melakukan reflektif dari setiap pembelajaran yang dilakukan. Meminta tanggapan siswa dan teman sejawat dari pembelajaran yang sudah dilakukan sebagai bahan perbaikan dari pembelajaran berikutnya.

Nilai Kolaboratif
Nilai ini menekankan pada kemampuan untuk membangun hubungan yang positif yang berbentuk komunikasi dan kerjasama dengan pemangku kepentingan di lingkungan sekolah untuk mengembangkan dan menciptakan proses pembelajaran yang  baik. Sebagai guru yang memiliki nilai kolaboratif harus menjunjung tinggi kepentingan bersama. Nilai kolaboratif yang dilakukan adalah berdiskusi dengan teman rekan sejawat dalam mendesain media pembelajaran, melakukan refleksi pembelajaran dengan rekan sejawat, terutama terhadap rekan sesama guru mapel, dan mengajak rekan guru untuk menerapkan pembelajaran yang memerdekakan murid serta berbagi ilmu dalam mendesain  media pembelajaran yang menarik yang sudah dipelajari

Nilai Inovatif
Seorang guru yang inovatif yaitu yang selalu memiliki gagasan segar dan tepat guna, memiliki pandangan yang luas, pantang menyerah dan jeli melihat peluang yang ada disekitarnya untuk mendukung dan meningkatkan kualitas pembelajaran murid. Dari hasil evaluasi dan refleksi di setiap pembelajaran dijadikan bahan perbaikan pembelajaran berikutnya. Mampu mendesain pembelajaran dengan menggunakan model atau metode yang inovatif sehingga siswa akan termotivasi untuk belajar. Melakukan inovasi dalam pembelajaran yang berpihak pada murid untuk mewujudkan merdeka belajar seperti melakukan pembelajaran dengan game agar siswa gembira dalam belajar.

Sabtu, 19 November 2022

REFLEKSI PEMBELAJARAN ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.1. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL KI HADJAR DEWANTARA


REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL KI HADJAR DEWANTARA

Pendidikan di Indonesia pada zaman penjajahan awalnya hanya untuk mengenal baca dan tulis. Kemudian berubah menjadi pendidikan untuk bagian kepegawaian yang bertujuan untuk admistrasi perkantoran. Pada zaman ini juga adanya pendidikan untuk perdagangan. Sehingga oleh Ki Hajar Dewantara Pendidikan beralih fungsi bagi siapa saja dengan didirikannya sekolah Taman Siswa. 

Dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara terdapat kata tiga semboyan yaitu; Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ki hajar Dewantara berpendapat bahwa anak mendapat pendidikan dan pengajaran harus selalu tetap bahagia. Karena beliau percaya bahwa anak memiliki kemampuan atau potensi yang harus di kembangkan. Dalam pengembangan potensi inilah anak harus di tuntun. Ibarat kertas kosong sebagai manusia dewasa kita tidak boleh sesuka hati untuk menggambarkan keinginan kita pada anak. 

Sebagai seorang pendidik dalam penerapan Ing Ngarso Sung Tulodho guru sebagai teladan yang memberikan contoh. Salah satu contohnya adalah sikap dan perilaku yang diberikan guru terhadap anak didik dalam menyampaikan pembelajaran. Konsep Ing Madya Mangun Karso yakni guru berada di tengah memberikan semangat kepada siswanya. Selain itu juga guru mengetahui kelemahan siswa dalam pembelajaran yang di hadapinya. Tut Wuri Handayani berarti guru berada di belakang yang mendorong dan memberikan motivasi kepada siswa agar mencapai tujuan hidupnya. 

Dengan demikian  pendidikan dan pengajaran harus sejalan. Ibarat seorang petani yang menanam benih maka ia juga harus merawat benih tersebut dengan kasih sayang. Perhatian dengan melihat kondisi air, tanah dan nutrisi yang di perlukan oleh benih, membuat benih tersebut tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Begitupun juga Pendidikan, harus berhamba kepada anak. Artinya kita sebagai pendidik mengetahui apa yang menjadi minat dan bakat anak didik tanpa memaksakan kehendak kita. Kita memfasilitasi anak untuk mencapai pembelajaran yang bahagia. Tentu saja itu tidak mudah, maka harus diperlukan kesabaran. 

Pendidikan dan pengajaran juga tak lupa dihubungkan dengan sosiokultural. Hal ini penting karena bangsa Indonesia memiliki warisan budaya beraneka ragam. Warisan budaya ini mencerminkan sifat Bhineka Tunggal Ika  dimana kita harus menghormati setiap perbedaan yang ada. Salah satu penerapan sosiokultural budaya adalah dengan mengenalkan anak terhadap budaya daerah tempat tinggalnya. Pembelajaran kebudayaan yang dimasukkan dalam mata pelajaran dapat menuntun siswa untuk menggali warisan budaya. 

Selain itu anak juga harus dididik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam yang dicapainya sudah ada sejak pembelajaran dari rumah yakni di dalam keluarga. Rasa kasih sayang di keluarga juga merupakan pembelajaran bagi anak. Namun anak juga harus disesuaikan pembelajarannya dengan zaman abad 21. Pengenalan teknologi kepada anak juga diperlukan agar anak tidak salah dalam pemakaian teknologi. Artinya anak tidak dikuasai oleh teknologi namun anaklah yang mampu menguasai teknologi. Oleh karena itu pembelajaran di kelas juga sebaiknya menggunakan dan mengenalkan teknologi kepada anak. 

Dari pemikiran Ki Hajar Dewantara saya mengerti bahwa anak memiliki potensi yang beragam. Tanpa memandang anak sebagai pribadi yang harus bisa di segala mata pelajaran, namun saya sebagai pendidik melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan selama ini. Dimana minat siswa dan kelemahan/persoalan dalam pembelajaran haruslah di amati. Dengan demikian anak akan bahagia mendapat pembelajaran dan merasa merdeka lahir dan batin. Hal-hal yang akan saya terapkan setelah mengetahui pemikiran pembelajaran Ki Hajar Dewantara adalah:

  1. Selalu mengingat bahwa anak memiliki potensi yang beragam
  2. Mengetahui permasalahan anak dalam pembelajaran dengan menerapkan kesepakatan kelas melalui forum diskusi kelas.
  3. Menerapkan metode pembelajaran sesuai dengan perkembangan teknologi.
  4. Menerapkan kesabaran karena dalam proses belajar harus memerdekakan siswa dalam pembelajaran yang berhamba kepada murid
  5. Melakukan refleksi setelah kegiatan pembelajaran agar pembelajaran berikutnya lebih baik lagi
      Anak adalah pribadi unik yang perlu diberikan pendidikan dan pengajaran. Dalam memberikan pendidikan dan pengajaran harus membuat anak merdeka lahir batin dan bahagia. Kodrat alam dan kodrat zaman harus selalu di ingat untuk pendidikan dan pengajaran kepada anak. Sehingga penerapan sosiokultural budaya bangsa selalu diwariskan. Jadilah pendidik yang menerapkan semboyan Ki Hajar Dewantara
“Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.

COBA

 aku suka